UCAPAN
Ucapan
yang sering kita gunakan di kehidupan sehari hari adalah bahasa pengantar dari
kita ke orang lain yang memiliki sebuah maksud dan tujuan. bahasa pengantar
kita adalah bahasa indonesia tetapi bahasa indonesia adalah bahasa penuntun
atau bahasa kedua. Kita sering dapat menentukan daerah asal seseorang dengan
menggunakan bahasa yang digunakannya.
EJAAN
1. pengantar
Tanpa
ejaan orang tidak akan mungkin menyusun kata secara baik sampai dengan
sekarang. Ejaan sangat penting di kehidupan berbahasa.
2. Penulisan Huruf
a.
Penulisan Huruf Kapital
Penulisan
Huruf Kapital digunakan pada saat awal kalimat, pada nama, kalimat bersifat
tegas, kalimat bersifat marah, huruf pertama yang berhubungan dengan tuhan dan
kitab suci,dan memulai sebuah kata setelah titik. Contoh : Semoga
Dia tidak melupakan hamba-Nya Lintang berkata, "Lihat Bu, saya mendapat nilai tertinggi di
sekolah". Bacalah
Al-qur'an
Berkaitan dengan nama
diri, gelar kehormatan, keturunan, atau keagamaan. Semuanya di tulis dengan
huruf kapital. Contoh : Raden Ajeng Kartini
Kalau
terpisah dari nama diri, dalam pengertian umum, huruf-huruf tersebut ditulis
dengan huruf kecil. Contoh : Dia baru saja diangkat menjadi gubernur Tahun depan dia akan pergi untuk berangkat haji Nama
jabatan juga di tulis di awal kalimat dengan huruf kapital apabila dikaitkan
dengan nama instansi atau nama
daerah sebagai pengganti nama diri. Contoh Gubernur Riau, Sekretaris
Jendral Pendidikan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Nama diri atau nama lembaga yang teridiri dari
beberapa kata, kata-kata tersebut
diawali dengan huruf kapital kecuali berupa kata tegas. Contoh : Ridho
Amdeni, Muhammad Ali, Fakultas
Sistem Informasi Universitas Gunadarma Kemudian
kata-kata yang digunakan dalam pengertian khusus
harus ditulis dengan menggunakan huruf kapital, sedangkan kata-kata dalam
pengertian umum ditulis dengan menggunakan huruf kecil. Contoh : Suatu
negara dikepalai oleh seorang presiden, Suatu desa dikeplai oleh seorang kepala desa
b. Huruf Tebal dan Huruf
Miring
Huruf
Tebal dan Huruf Miring digunakan pada nama lembaga,judul buku atau karangan
yang diawali dengan huruf kapital kecuali huruf yang berupa tegas. Apabila
ditulis dengan kata-kata yang merupakan judul buku ini harus menggunakan garis
bawah. Contoh : Mendalami
Pelajaran Bahasa Indonesia, Belajar
Berbahasa Indonesia Dengan Baik dan Benar. Pada
judul naskah,skripsi,tesis harus menggunakan tanda petik ("____").
Contoh : "Senang
Belajar Berbahasa Indonesia", "EYD yang Benar Dalam Berbahasa
Indonesia" dan
kalau sudah tercetak ditulis dengan huruf miring "Senang Belajar Berbahasa Indonesia", "EYD
yang Benar Dalam Berbahasa Indonesia" Huruf miring juga
digunakan untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing yang belum di
sesuaikan ejaanya. Contoh : Negara itu telah mengalami empat kali kudeta, Rakyat tersebut di paksa untuk kerja rodi, Huruf
Miring digunakan untuk judul buku dan majalah
3. Penulisan Partikel dan
Awalan
Dalam
penulisan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan perlu diperhatikan
penulisan partikel. Ada kata yang harus di tulis serangkai seperti :
adi- misalnya pada
adidaya, adikuasa, adimarga.
awa- misalnya pada
awaair,awabau,awawarna,awasuara.
de- misalnya pada
dehidrasi,deodorant,devoice.
antar- misalnya pada
antarmuka,antardaerah,antarwilayah,antarbangsa
pra- misalnya pada
prasejarah,prasast.
pasca- misalnya pada
pascasarjana,pascapanen.
pramu- misalnya pada
pramuwisata,pramuria.
purna- misalnya pada
purnawaktu,purnawirawan
tuna- misalnya pada
tunawisma,tunakarya,tunasusila,tunarungu.
4. Penulisan Bilangan
Pada
bilangan ada yang ditulis dengan huruf dan ada pula yang ditulis dengan angka.
Bilangan yang menunjukan tahun, jam, tanggal, nomor rumah, nomor gang, nomor
telepon, harus di isi dengan menggunakan angka. Bilangan yang menunjukan jumlah
dari salah satu sampai sembilan ditulis dengan menggunakan huruf, jumlah
seperti "delapan ratus lima puluh ribu rupiah" kecuali di tabel dan
grafik. Kemudian seperti uang, luas tanah, lebar tanah, berat benda, jarak,
selalu di tulis dengan menggunakan angka. Bilangan tingkat dapat dinyatakan
dengan huruf, dengan angka, dan huruf dan angka. Seperti abad ke -10 abad
X.
5. Tanda Baca
Ada
beberapa macam tanda baca seperti titik (.), koma(,), titik koma (;), titik dua
(:), dan tanda petik ("..")
Tanda Titik(.)
Tanda
titik dipakai untuk menandai berakhirnya sebuah kalimat. kemudian tanda titik
juga dipergunakan sesudah nomor bab atau subbab atau bagian dari subbab. Contoh
: Ibu
memasak ikan di dapur dengan menggunakan wajan, Asep bermain bola kaki di lapangan. yang
perlu diperhatikan adalah kapan seharusnya titik tidak digunakan. Seperti
SMA,SMP,ABRI tidak menggunakan titik. Alamat surat baik pengirim ataupun alamat
yang dituju juga tidak menggunakan titik karena alamat tersebut tidak merupakan
sebuah kalimat
Tanda Koma(,)
Tanda
koma digunakan untuk menandai adanya jeda di dalam suatu kalimat. Contoh : Ibu
ke pasar membeli cabe, bawang putih, bawang merah, jahe, timun, dan tomat di
pasar. Saya
membeli ikan, gurita, cumi, ayam, dan daging sapi, ketika dipasar.
Tanda
koma juga memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan
tetapi,atau,melainkan. Contoh : Orang itu miskin, tetapi ibadahnya tidak pernah tinggal. saya
mengikuti kegiatan UKM kampus, tetapi saya tidak aktif.
Tanda
koma digunakan untuk membatasi kata-kata dalam kalimat petikaian langsung.
Contoh : "Saya
marah sekali", kata Asep "Karena dia telah mempermainkan saya". Andi
berkata, "Ayoo cepat kesini".
Tanda
koma juga dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, dan di
antara nama tempat dan wilayah suatu negara yang ditulis secara beruntun.
Contoh : Ridho
Amdeni jalan Radio Dalam nomor 29, jakarta selatan
Tanda Titik Koma (;).
Tanda
titik koma digunakan untuk memisahkan bagian kalimat sejenis dan setara.
Contoh : hari
sudah malam; si Andi belum juga pulang ke rumah
Tanda titik koma digunaka
untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma. Contoh : Andi
membeli sepatu, baju, celana dan Kaos kaki; sedangkan Budi membeli gelang,
kalung, cincin dan minyak harum.
Tanda Titik Dua (:).
Tanda
Titik Dua juga digunakan pada kata-kata misalnya, contohnya, sebagai berikut
yang diikuti perincian. Contoh :
Ketua : Ridho amdeni
Sekretaris : Jessica
Veranda Tanumihardja
Bendahara : Milenia
Christiani Glory Gunawan
Tanda
Titik Dua dipakai akhir suatu pernyataan yang lengkap dan
diikuti oleh rangkaian atau perincian. Contoh :
Ridho membeli : baju,
sepatu, sendal, dan ikat pinggang.
Tanda Petik
("___").
Biasanya
tanda petik di cetak dengan menggunakan huruf miring. Penggunaan tanda petik
dalam petikan langsung tidak dicetak dengan huruf miring. Melainkan tetap
dicetak dengan suatu majalah pun tanda petik tetap digunakan. Contoh : ibu
berteriak memanggil adik,"arif jangan lupa pulang untuk makan", Tolong
berpikirlah dengan "positive thinking"
Tanda Hubung (-).
Tanda
hubung digunakan untuk menghubungkan kata-kata yang diulang seperti
kapan-kapan, buah-buahan, sayap-sayapan DLL. Tanda hubung juga digunakan untuk
menghubungkan tanggal, bulan, tahun. Contoh :
Pekanbaru,26 juni 1995 Tanda
hubung juga digunakan untuk menghubungkan awalan atau akhiran di dalam bahasa
indonesia yang dirangkaikan dengan kata dasar asing. Contoh : Di-Pukilin,
Pe-Langgar-an, Pen-Cabut-an.
http://edigunawan01.blogspot.co.id/2013/04/ucapan-dan-ejaan-bahasa-indonesia.html
DIKSI (Pilihan Kata)
Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada
pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti
"diksi" yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni
berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga
kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan
dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Diksi memiliki beberapa bagian; pendaftaran - kata formal
atau informal dalam konteks sosial adalah yang utama. Analisis diksi secara
literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan
karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan
fisik menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang
berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi juga
memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan sintaks.
Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pusat bahasa
Departemen Pendidikan Indonesia adalah pilihan kata yg tepat dan selaras (dalam
penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu
(seperti yang diharapkan). Fungsi dari diksi antara lain :
• Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak
salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
• Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
• Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
• Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi,
tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
Contoh Kalimat Diksi
1. Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk
memperoleh kepercayaaan masyarakat
2. Dia adalah wanita cantik (denotatif)
3. Dia adalah wanita manis (konotatif)
4. APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen (kata
konkrit)
5. Kebenaran (kata abstrak) pendapat itu tidak terlalu tampak
Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel,
konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans. Macam macam
hubungan makna :
1. Makna Denotatif
dan Konotatif
Makna Denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang sebenarnya
atau sesuai dengan makna kamus.
Contoh :
Adik makan nasi.
Makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
Makna Denotasi adalah makna yang sebenarnya, maka seharusnya Makna Konotasi
merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang lain. Terkadang
banyak eksperts linguistik di Indonesia mengatakan bahwa makna konotasi adalah
makna kiasan, padahal makna kiasan itu adalah tipe makna figuratif, bukan makna
konotasi. Makna Konotasi tidak diketahui oleh semua orang atau dalam artian
hanya digunakan oleh suatu komunitas tertentu. Misalnya Frase jam tangan.
Contoh:
Pak Saleh adalah seorang pegawai kantoran yang sangat tekun dan
berdedikasi. Ia selalu disiplin dalam mengerjakan sesuatu. Pada saat rapat
kerja, salah satu kolega yang hadir melihat kinerja beliau dan kemudian berkata
kepada sesama kolega yang lain “Jam tangan pak Saleh bagus yah”.
Dalam ilustrasi diatas, frase jam tangan memiliki makna konotasi yang berarti
sebenarnya disiplin. Namun makna ini hanya diketahui oleh orang-orang yang
bekerja di kantoran atau semacamnya yang berpacu dengan waktu. Dalam contoh
diatas, Jam Tangan memiliki Makna Konotasi Positif karena sifatnya memuji
Contoh lainnya misalnya kamar kecil dapat bermakna konotatif jamban, sedangkan
makna denotative adalah kamar yang kecil.
2. Makna Umum dan Makna Khusus
Kata umum adalah kata yang acuannya lebih luas. Kata khusus adalah kata
yang acuannya lebih sempit atau khusus. Misalnya ikan termasuk kata umum,
sedangkan kata khusus dari ikan adalah mujair, lele, gurami, gabus, koi. Contoh
lainnya misalnya lele dapat menjadi kata umum, jika kata khususnya adalah lele
lokal, lele Jumbo.
Struktur Leksikal
Yang dimaksud dengan struktur leksikal
adalah bermacam-macam pertalian semantik yang terdapat di dalam kata.
2.1 Polisemi
Seperti terlihat
dalam contoh yang lalu, satu kata mungkin mempunyai arti lebih dari satu. Di
antara arti-arti itu masih ada hubungan, meskipun hanya sedikit atau hanya
bersifat kiasan. Kata angin misalnya dalam arti gramatikal masih dapat dicari
hubungannya dengan yang bermakna leksikal. Kata-kata yang dapat memiliki
bermacam-macam arti demikianlah yang disebut dengan polisemi. Poli berarti
banyak, semi berarti tanda.
Dalam kamus
Linguistik Harimurti Kridalaksana, kata polisemi dijelaskan sebagai memiliki makna
pemakaian bentuk bahasa seperti kata, frase, dan sebagaina dengan makna yang
berbeda-beda. Misalnya:
Sumber, yang berarti: 1) Sumur, 2) Asal, 3) Tempat sesuatu yang
banyak;
Kambing hitam, yang berarti: 1) Kambing yang hitam, 2)
Orang yang dipersalahkan.
Kata polisemi dalam
bahasa Inggris adalah polysemy atau multiple meaning.
Polisemi merupakan
perkembangan makna kata. Perubahan makna kata dapat terjadi dalam suatu bahasa
atau dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Dalam proses perubahan makna kata,
makna asal ada yang masih tetap bertahan di samping makna baru ada pula yang
hilang tidak dipergunakan lagi dalam pemakaian bahasa sehari-hari.
2.2 Homonimi
Apabila dalam
polisemi kita berbicara mengenai satu kata yang mempunyai beberapa arti, maka
dalam homonimi kita memperoleh kenyataan lain bahwa yang menyangkut dua kata
atau lebih yang berlainan makna, tetapi mempunyai bentuk yang sama (homograf)
atau mempunyai bunyi yang sama (homofon). Dalam polisemi kita hanya berhadapan
dengan satu kata saja. Sedangkan dalam homonimi kita berhadapan dengan dua kata
atau lebih.
Dalam homonimi
seakan-akan kita berhadapan dengan satu kata yang mempunyai beberapa arti,
tetapi arti yang satu dengan yang lain tidak mempunyai hubungan sama sekali.
Dalam hal ini sebetulnya bukan satu kata melainkan beberapa kata (yang
berlainan asal usulna) yang secara kebetulan mempunyai bentuk yang sama.
Contoh kata-kata
yang berhomonim:
Bisa, ketoprak,
beruang, mengerang, dan sebagainya.
Bisa, berarti: 1) dalam bahasa Jawa berarti
sanggup atau dapat, 2) bahasa Melayu yang berarti racun.
Ketoprak, berarti: 1) dari Bahasa Jawa berarti
sebangsa sandiwara dengan menari dan menyanyi disertai gamelan, 2) dari bahasa
Jakarta berarti nama makanan terdiri dari tahu dan taoge, kecap dan sebagainya.
Beruang, berarti: 1) nama binatang buas, 2)
mempunyai ruang (bentuk dasar ruang mendapatkan afiks –ber), 3) mempunyai uang
(dari bentuk dasar uang mendapat afiks –ber).
Mengerang, berarti: 1) mengeluh, merintih karena
kesakitan (dari kata erang mendapat afiks me-), 2) mencari kerang.
Kata homonimi
berasal dari bahasa Yunani Kuno yakni onoma yang berarti nama dan homos yang
berarti sama. Arti harfiahnya sama
nama untuk benda lain. Dalam bahasa Indonesia kadang-kadang homonimi masih
dapat dibedakan lagi atas homograf dan homofoni (homofon). Semua contoh
tersebut adalah homonym yang bersifat homofon. Yaitu kata-kata yang mempunyai
bunyi atau ucapan yang sama. Sedangkan kata-kata sedan (1), sedan (2), teras
(1), dan teras (2), adalah kata-kata homonym yang bersifat homograf. Yaitu
kata-kata yang sama tulisannya.
2.3 Sinonimi
Sinonimi atau lebih
dikenal dengan istilah sinonim yaitu kata-kata yang bentuknya berbeda tetapi
artinya sama. Kata sinonim berasal dari kata Yunani Kuno onoma yang berarti
nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah artinya adalahnama lain
untuk benda yang sama.
Yang dimaksud sama
dalam batasan ini tidak bersifat mutlak, sebab dalam pemakaian sehari-hari
tidak ada dua kata yang benar-benar sama maknanya. Bahkan yang dikatakan
sinonim itu mempunyai makna yang sama sekali berlainan.
Gorys Keraf membuat
batasan sinonimi adalah suatu istilah yang dapat ditafsirkan sebagai:
1. Telaah mengenai
bermacam-macam kata yang memiliki makna yang sama
2. Keadaan di mana
dua kata memiliki makna yang sama
Sebaliknya sinonim
adalah kata yang memiliki makna yang sama.
Dalam kamus
Linguistik Harimurti Kridaklaksana dijelaskan bahwa sinonim yaitu bentuk bahasa
yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain; kesamaan itu berlaku bagi
kata, kelompok kata, atau kalimat. Walaupun umumnya yang dianggap sinonim
hanyalah kata-kata saja.
Bagaimana
sinonim-sinonim itu terjadi?
1. Karena
perkembangan sejarah, terutama melalui proses serapan. Pengenalan dengan bahasa
asing mengakibatkan masuknya kata-kata baru yang sebenarnya sudah ada
padanannya dalam bahasa sehari-hari. Seperti kitab dan buku.
2. Karena masuknya
kata-kata daerah atau dialek-dialek yang berbeda. Seperti tali dan tambang,
singkong dan ketela.
3. Karena perbedaan
gaya atau register. Seperti mati dan meninggal, kuat dan perkasa, bagus dan
elok.
4. Makna emotif
(nilai rasa) dan evaluatif dapat pula menciptakan sinonim-sinonim. Makna
denotatif atau juga disebut makna kognitif, makna ideasional, makna
proposisional atau makna denotasional dari kata-kata itu tetap sama seperti:
gadis, dara dan perawan. Opas, kuli dan budak. Ekonomis, hemat dan irit.
Di samping itu
masih ada sinonim yang bersifat kolokasional yaitu ada kata-kata yang hanya
muncul dalam hubungan dengan kata tertentu. Misalnya kata belia bersinonim
dengan teruna, remaja dan muda, tetapi kata yang boleh diikutinya dan
didahuluinya tidak sama.
2.4 Hiponimi
Antara sebuah kata
dengan kata yang lain sering terdapat semacam relasi atas dan bawah, yang dalam
ilmu bahasa disebut hiponimi. Karena ada tingkat atas dan bawah, maka kata yang
berkedudukan sebagai kelas atas disebut superordinat dan dikelas bawah disebut
hiponim. Contohnya bunga mawar, bunga dahlia, bunga kamboja, bunga melati.
Mawar, dahlia, kamboja dan melati merupakan hiponim. Sedangkan Bunga adalah
superordinatnya.
Dari Kamus Linguistik Harimurti Kridalaksana
kita dapat memperoleh kejelasan bahwa hiponimi adalah hubungan dalam semantik
antara makna spesifik dan makna generik. Makna generik yaitu unsur leksikal
yang maknanya mencakup segolongan unsur.
Misalnya antara
kucing, anjing, dan kambing di satu pihak dan hewan di pihak yang
lainnya. Kucing, anjing dan kambing disebut hiponim dari hewan; hewan
disebut superordinat dari kucing, anjing dan kambing; kucing, anjing dan
kambing disebut ko-hiponim.
2.6 Doblet
Ada kata-kata yang
benar-benar sama asal usulnya dan dalam perkembangannya lalu ada yang berbeda
bentuk maupun artinya. Jikalau sepatah kata timbul dan mempunyai dua varian,
kemudian varian itu diberi arti yang berlainan, maka doblet ini bisa timbul.
KALIMAT EFEKTIF, CIRI – CIRI, DAN
CONTOH KALIMAT EFEKTIF
Kalimat adalah satuan bahasa
berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna
yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran
yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat
diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri
dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat
dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya
(?) dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik
lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat
(P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat
melainkan hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat.
Disini, kalimat dibagi menjadi dua,yaitu :
Efektif mengandung pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan
berguna jika dipakai pada sasaran yang tepat. Pengertian efektif dalam kalimat
adalah dan ketepatan penggunaan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi
kebahasaan tertentu pula. Beberapa definisi kalimat efektif menurut beberapa
ahli bahasa :
1. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat
komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar,
mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
2. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga
dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001)
3. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas,
sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
4. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat
menyampaikan informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh
pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan
Wahyudi: 2009)
5. Kalimat efektif di pahami sebagai sebuah kalimat yang dapat
membantu menjelaskan sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas padat dan
mudah di mengerti serta di artikan. (ARIF HP: 2013)
Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kata
kunci dari definisi kalimat efektif yaitu sesuai kaidah bahasa, jelas, dan
mudah dipahami. Jadi, kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah
bahasa, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Kalimat efektif syarat-syarat sebagai
berikut:
1.secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau
pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
Ciri-Ciri Kalimat Efektif :
1. KESATUAN GAGASAN
Memiliki subyek,predikat, serta unsur-unsur lain ( O/K) yang saling mendukung
serta membentuk kesatuan tunggal.
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan
umum.
Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di
dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu
merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus
dihilangkan).
2. KESEJAJARAN
Memiliki kesamaan
bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan
di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu
dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang
satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi
menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
3. KEHEMATAN
Kalimat efektif tidak boleh
menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih. Penggunaan
kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata
mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar adalah:
Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.
4. PENEKANAN
Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
• Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang
penting di depan kalimat.
Contoh :
1. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan
lain
2. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
• Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel
–lah, -pun, dan –kah.
Contoh :
1. Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
2. Kami pun turut dalam kegiatan itu.
3. Bisakah dia menyelesaikannya?
• Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap
penting.
Contoh :
Dalam membina hubungan antara
suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara
pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami
antara satu dan lainnya.
• Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau
berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
Contoh :
1. Anak itu tidak malas, tetapi rajin.
2. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan
menyeluruh.
5.
KELOGISAN
Kalimat efektif harus mudah
dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki
hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
Waktu dan tempat saya
persilakan. Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat
adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah
misalnya ;
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.
Contoh kalimat efektif :
1. Saran yang di kemukakannya kami akan pertimbangkan ( tidak efektif )
Seharusnya : Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
2. Sejak dari pagi dia bermenung ( tidak efektif )
Seharusnya : Sejak pagi dia bermenung.